Profil Tentang LLDikti Sambutan Kepala Profil Singkat Pimpinan Struktur Organisasi Akuntabilitas Rencana Strategis Laporan Kinerja IKU dan Perjanjian Kinerja Pelayanan Publik Layanan Maklumat Pelayanan Pengaduan Survei Kepuasan Masyarakat Indeks Kepuasan Masyarakat Informasi Kegiatan LLDIKTI I Kegiatan PTS Pengumuman Unduhan Tautan Terkait SIPATEN JURNAL PDDIKTI PISN BIMA KIP-KULIAH SINTA SIAGA SAPTO SISTER AKREDITASI INSTITUSI AKREDITASI PRODI PPID Profil PPID Visi dan Misi PPID Struktur Organisasi PPID Tugas dan Fungsi PPID Informasi Berkala Informasi Setiap Saat Informasi Serta Merta Permohonan Informasi Publik Permohonan Keberatan Informasi Publik Kontak Portal Layanan
Kegiatan PTS

Dirgahayu RI : Fenomena Brompton, Nasionalisme Lewat Polygon

V
Vahrun
16 Aug 2020 4 menit baca
Dirgahayu RI : Fenomena Brompton, Nasionalisme Lewat Polygon


Dirgahayu RI : Fenomena Brompton, Nasionalisme Lewat Polygon

 

Supriyanto, SP., MSi., Direktur Politeknik Cendana

 

Aktivitas gowes, akhir-akhir cukup menjamur, mulai dari Aceh sampai dengan Papua, di kota maupun di pedesaan, kondisi ini merupakan salah satu dampak positif dari masa pandemi Covid-19. Meskipun demikian ada juga dampak kurang baik, di Banda Aceh ibu-ibu bikers terkena teguran oleh Wilayatul Hisbah (WH) karena pakaian yang digunakan dianggap kurang sopan dan tidak menggambarkan ketentuan Syariat Islam, di Jakarta lain lagi ceritanya sekumpulan bikers dinyatakan Positif Covid-19 setelah mereka melakukan gowes bersama, para pencuripun cukup jeli memanfaatkan keadaan kalau selama ini mereka mencuri sepeda motor sekarang mereka mengincar sepeda, disamping lebih mudah harga jualnya pun lebih tinggi. Namun sekali lagi, aktivitas gowes sangat banyak manfaat serta dampak positifnya.

 

Penjualan sepeda di beberapa toko sepeda di Medan cukup menggeliat, bahkan untuk merek tertentu toko sudah kehabisan stok terutama sepeda impor, bahkan konsumen rela indent. Merek sepeda import yang cukup familier antara lain Specialized, Ridley Noah, Cervelo, Ritte, Canyon, Cannondale, dan Brompton, merek terakhir termasuk yang paling populer di negara kita. Perkara indent ini ada fenomena yang cukup menarik, saat ini produsen sepeda asal Inggris merek Brompton mengalami peningkatan permintaan yang cukup signifikan, kabarnya pemesan terbanyak dari Indonesia. Sebagai gambaran harga 1 unit Brompton yang termurah adalah Rp. 37,5 juta (Brompton B75 2020 Blue Folding Bike Sepeda Lipat, Blibli), sebuah harga yang cukup fantatis. Coba bandingkan dengan merek lokal, Polygon type rapid 20 dibandrol Rp. 3 jt (Shopee), atau Kreuz sepeda home made dari Bandung yang dibandrol Rp. 3,75 jt. Dua produk dalam negeri tersebut tidak kalah bersaing dengan produk impor, apalagi bila dilihat dari sisi harga, satu berbanding sepuluh.

 

Menyikapi kondisi ini menjadi teringat dua hal, yang pertama adalah pernyataan Pak Habibie  tentang harga 1 unit pesawat, beliau berpendapat bahwa 1 kg pesawat terbang setara dengan 450 ton beras (Detikfinance). Artinya ketika kita impor 1 unit pesawat Boeing, sama saja kita  memberikan nafkah untuk ribuan pekerja Boeing, yang notabene bukan orang Indonesia. Hal yang kedua adalah salah satu statemen dari perwakilan USAID pada sebuah rapat awal tahun 2000-an bahwa Indonesia adalah pasar potensial di Asia, mereka tidak memperdulikan pasar lain semisal RRC yang jumlah penduduknya lebih dari 1 milyar, karena di RRC lebih dominan produksi sendiri pakai sendiri, tetapi rakyat Indonesia sebaliknya lebih menyukai barang-barang produk luar negeri. Suatu cara hidup dan cara pandang yang mesti kita ubah kedepannya sehingga dapat mendorong aktivitas ekonomi yang lebih produktif di dalam negeri.

 

Hari ini kita sudah merdeka selama 75 tahun, tetapi sesungguhnya baru merdeka secara fisik, merdeka secara ekonomi masih menjadi pertanyaan besar untuk kita semua. Bagaimana kita mau merdeka secara ekonomi kalau hanya untuk urusan sepeda saja masih menyukai produk impor, padahal produk dalam negeri cukup kompetitif baik dari sisi kualitas maupun harga. Sebagai contoh KREUZ, berasal dari kata KAREUEUS yang berarti KEBANGGAAN, keberadaanya dapat menghidupkan 130-an UMKM, Polygon dengan ribuan karyawannya yang telah mampu ekspor sepeda ke berbagai belahan dunia. Banyak produk lain yang jumlahnya ribuan yang sebenarnya perlu kita dukung keberadaannya, sehingga dapat menggerakan roda perekonomian secara masif. Perayaan Kemerdekaan RI yang ke 75 ditengah pandemi Covid-19 menjadi momen yang tepat untuk membangkitan nasionalisme melalui penggunaan barang produksi dalam negeri secara lebih  intensif.

 

Penggunaan barang produksi dalam negeri secara otomatis akan dapat menggerakkan industri dalam negeri, sehingga industri tersebut dapat memberikan kesempatan kerja bagi jutaan saudara-saudara kita yang pada saat ini mungkin sedang dirumahkan, dampaknya adalah akan ada jutaan warga negara yang mendapatkan nafkah dengan lebih baik. Mempertimbangkan rata-rata pertumbuhan ekonomi tahun 2020 pada posisi minus, tentunya langkah tersebut akan sangat positif perekonomian negara kita. Harapan ini selaras dengan pernyataan Presiden Jokowi pada sidang tahunan MPR dan DPR, 14 Agustus 2020, beliau menyampaikan bahwa saatnya kita bajak momentum krisis untuk melakukan lompatan-lompatan besar. Lompatan-lompatan besar tersebut pilihannya ada di anda dan kita semua. DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA

 

FOLLOW akun media sosial LLDikti Wilayah I :
1. Follow FanpageFB
2. Follow Instagram
3. Follow Twitter
4. Subscribed Youtube Channel LLDIKTI WILAYAH I SUMUT